Monday, 29 December 2014

Said bin Jubair radhiyallahu 'anhu

a’id bin Jubair
Badannya kekar, sempurna bentuk tubuhnya, lincah gerak-geriknya, cerdas otaknya, jenius akalnya, antusias terhadap kebajikan, dan menjauhi dosa. Meski hitam warna kulitnya, keriting rambutnya, dan asalnya dari Habsyi, namun tidaklah jatuh rasa percaya dirinya untuk menjadi manusia yang istimewa, apalagi umurnya masih muda.

Pemuda yang berasal dari Habsyi asli dan menjadi warga Arab ini sadar betul bahwa ilmu adalah jalan yang bisa mengantarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan takwa adalah jalan yang menuntunnya ke surga. Oleh sebab itu, dijadikannya takwa di sisi kanannya dan ilmu di sisi kirinya. Keduanya dipadukan dengan ikatan yang erat.

Dengan dua hal tersebut beliau mengarungi samudra kehidupan tanpa berleha-leha dan berpangku tangan. Sejak beliau masih muda, orang-orang telah mengenalnya sebagai pemuda yang akrab dengan buku-buku yang ia baca. Atau jika mereka tidak mendapatkannya sedang membaca buku, maka beliau tengah di mihrabnya untuk ibadah. Itulah dia manusia pilihan di zamannya, Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu.

Pemuda Sa’id ini berguru kepada banyak sahabat senior, seperti Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar maupun Ummul Mukminin Aisyah. Tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, guru besar umat Islam dan lautan ilmu yang luas.

Dengan setiap Sa’id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari sahabat inilah beliau menggali tafsir Alquran, hadis-hadis, dan seluk-beluknya. Darinya pula beliau mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.

Selanjutnya, beliau mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak beliau menjadi guru dan imam di kota itu.

Beliau menjadi imam shalat bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan, terkadang membaca Alquran dengan qira’ah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, terkadang dengan qira’ah Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan terkadang dengan qira’ah selainnya.

Jika beliau shalat sendirian, adakalanya beliau khatamkan Alquran dalam sekali shalat. Dan sudah menjadi kebiasaan beliau apabila membaca ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (Alquran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Al-Mukmin: 70-72)

Atau ketika membaca ayat-ayat serupa yang berisi ancaman, maka menjadi gemetarlah badannya, gentar hatinya, dan menetes air matanya. Kemudian mengulang-ulang ayat tersebut sampai adakalanya hampir pingsan.

Beliau melakukan perjalanan ke Baitullah al-Haram dua kali setiap tahunnya. Pertama adalah pada bulan Rajab untuk melakukan umrah, lalu di bulan Dzulqa’dah hingga usai ibadah haji.

Orang-orang yang merindukan ilmu dan kebaikan datang berduyun-duyun ke Kufah untuk menghirup sumber ilmu yang jernih dari Sa’id bin Jubair. Beliau ditanya, “Apakah khasyyah (takut) itu?” beliau menjawab, “Khasyyah adalah bahwa engkau harus takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga rasa takutmu menghalangi dirimu dari perbuatan maksiat.”

Ketika ditanya tentang dzikir, beliau berkata, “Dzikir itu adalah taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa menyahut seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menaati-Nya, berarti dia berdzikir kepada-Nya. Adapun orang yang berpaling dan tak mau taat, maka dia bukanlah termasuk ahli dzikir, meski dia bertasbih dan membaca Alquran semalam suntuk.”

Kota Kufah yang menjadi pilihan beliau untuk menetap ketika itu di bawah kepemimpinan gubernur Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kekuasaan Hajjaj meliputi Irak dan seluruh Masyriq serta negeri di seberangnya, dia memegang kedudukan dan kekuasaannya dengan penuh kesombongan. Dia telah membunuh Abdullah bin Zubair, menumpas gerakannya, menundukkan Irak di bawah kekuasaan Bani Umayah dan memadamkan pemberontakan di sana-sini. Menghunus pedangnya ditengkuk manusia dan menyebarkan rasa takut di seluruh negeri kekuasaannya. Hingga para penduduk merasa ngeri dan takut akan kekejamannya.

Sa’id bin Jubair Melawan Kekejaman Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi
Suatu ketika takdir Allah menghendaki terjadinya perselisihan antara Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dengan salah satu pendampingnya yang bernama Abdurrahman bin Asy’ats. Perang argumen akhirnya berkembang menjadi fitnah besar yang menelan sangat banyak korban, meninggalkan bekas luka yang dalam dan menyedihkan hati kaum muslimin.

Ada yang berkata bahwa fitnah tersebut terjadi ketika Hajjaj mengutus Ibnu Asy’ats bersama pasukannya untuk menaklukkan kota Ratbil di Turki, di belakang daerah yang bernama Sajistan.

Maka berperanglah panglima yang tangguh tersebut dengan membawa pasukan besarnya dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah negeri tersebut. Termasuk merebut beberapa benteng yang kokoh dan mendapatkan banyak ghanimah dari kota-kota dan desa-desa. Kemudian panglima itu mengirim utusan untuk menghadap kepada Hajjaj agar menyampaikan kabar gembira dan sekaligus mengirimkan seperlima dan ghanimah untuk baitul maal milik kaum muslimin. Selain itu dia juga menulis surat, minta izin untuk sementara menghentikan perang. Agar dia dapat mempelajari seluk-beluk medan maupun keadaan dan kebiasaan penduduk negeri itu, sebelum memutuskan untuk menyerbu daerah pedalaman yang belum diketahui medannya oleh pasukan yang sebelumnya telah berhasil mendapatkan kejayaan.

Namun Hajjaj murka dengan pendirian panglima tersebut. Dia menulis surat balasan berisi kecaman pedas dan menuduh Abdurrahman sebagai pengecut serta mengancam akan memecatnya. Begitu surat dari gubernurnya datang. Abdurrahman bin Asy’ats segera mengumpulkan para komandan pasukan dan perwiranya. Beliau membaca surat tersebut untuk kemudian dimusyawarahkan bagaimana sikap yang harus mereka ambil.

Ternyata para komandan itu menyarankan untuk menentang perintah Hajjaj. Maka Abdurrahman berkata, “Apakah kalian bersedia berbaiat untuk berjihad kepadanya hingga Allah membersihkan bumi Irak dari kezalimannya?” akhirnya mereka melakukan baiat kepada panglimanya.

Tentara Abdurrahman bin Asy’ats bergerak menyerang pasukan Hajjaj dengan kebencian berkobar di dada. Terjadilah pertempuran dahsyat antara mereka dengan pasukan Ibnu Yusuf, dan pasukan Abdurrahman berhasil memenangkannya hingga mampu menguasai Sajistan serta sebagian besar wilayah Persia. Selanjutnya Abdurrahman berhasrat merebut Kufah dan Basrah dari kekuasaan Hajjaj bin Yusuf.

Perang masih berkecamuk antara dua kubu. Ibnu Asy’ats terus menguasai kota demi kota. Hal itu membuat kemarahan Hajjaj memuncak ke ubun-ubun. Bersamaan dengan itu, para wali di berbagai daerah telah menulis surat kepada Hajjaj yang melaporkan banyaknya ahli dzimmah yang memeluk Islam untuk melepaskan diri dari kewajiban membayar jizyah. Mereka telah meninggalkan pedesaan menuju ke kota-kota. Ini berarti makin menipisnya pendapatan negara. Kemudian Hajjaj menulis surat kepada walinya di Basrah dan kota-kota lainnya untuk mengumpulkan para ahli dzimmah yang telah berpindah dan mengembalikan semuanya ke tempat asal masing-masing. Tak luput pula bagi mereka yang sudah lama tinggal di kota. Perintah Hajjaj segera dilaksanakan. Sejumlah besar ahli dzimmah tersebut dikumpulkan dan dijauhkan dari mata pencahariannya. Di pinggiran kota, mereka dikumpulkan beserta anak-istrinya dan dipaksa kembali ke desa-desa yang telah lama mereka tinggalkan.

Para wanita, anak-anak dan orang-orang tua menangis beruraian air mata. Mereka minta tolong sambil berseru, “Wahai umat Muhammad.. wahai umat Muhammad.” Mereka bingun hendak berbuat apa, tak tahu harus pergi kemana. Kemudian, keluarlah para ulama dan ahli-ahli fikih Bashrah untuk menolong serta mengusahakan agar perintah tersebut dibatalkan. Namun hasilnya nihil, sehingga mereka pun ikut menangis karena tangisan mereka lalu berdoa agar Allah mengentaskan mereka dari musibah tersebut.

Kekecewaan para ulama itu dimanfaatkan oleh Abdurrahman. Dia mendekati para alim ulama untuk mendukung perjuangannya. Kemudian beberapa tokoh tabi’in dan pemuka-pemuka Islam turun tangan, di antara termasuk Sa’id bin Jubair, Abdurrahman bin Laila, Imam asy-Sya’bi, Abul Bukhtari dan lain-lain.

Perang besar antara kedua belah pihak meletus. Mula kemenangan berpihak di pasukan Ibnu Asy-ats, tapi kemudian sedikit demi sedikit keseimbangan beralih. Pasukan Hajjaj berada di atas angin, sampai akhirnya kekuatan Ibnu Asy’ats dapat dihancurkan. Ibnu Asy’at melarikan diri dan pasukannya menyerah kepada Hajjaj.

Setelah itu, Hajjaj memerintahkan pegawainya untuk menyeru kepada para pemberontak agar memperbaharui baiatnya. Di antara mereka ada yang menaati dan sebagian kecil menghilang, termasuk Sa’id bin Jubair.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbaiat, namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tidak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan baiatmu kepada amirmu? Jika dia menjawab, “Ya” maka diterima baiatnya yang baru lalu dibebaskan. Namun jika menjawab, “Tidak” maka dibunuh.

Sebagian dari mereka yang lemah, tunduk dan terpaksa mengaku kafir demi keselamatan dirinya. Sedangkan sebagian lagi tetap teguh dan tidak meingdahkan perintah tersebut, tetapi mereka harus membayar dengan lehernya.

Menurut kabar yang tersebar, penjagalan tersebut telah memakan ribuan orang, sedangkan ribuan selainnya selamat setelah mengaku kafir.

Dalam kejadian lain, ada orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi huru-hara dan kekacauan antara dua kubu, dia tidak berpihak kepada siapapun dan tinggal di suatu tempat yang jauh di belakang sungai Eufrat. Kemudian dia digiring menghadap Hajjaj, lalu ditanya tentang dirinya.

Orang Tua: “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah Anda menang dan perang usai, maka aku datang kemari untuk melakukan baiat.”

Hajjaj: “Celakalah engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu, sekarang apakah engkau mengaku bahwa dirimu telah kafir?”

Orang tua: “Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengaku sebagai kafir.”

Hajjaj: “Jika demikian aku akan membunuhmu.”

Orang tua: “Jika engkau membunuhku.. demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam hari. Oleh karena itu, lakukanlah semaumu.

Akhirnya orang tua itupun dipenggal lehernya. Tak seorang pun dari pengikut ataupun musuh Hajjaj yang hadir di situ yang tak memuji dan merasa iba terhadap syaikh tua tersebut serta memintakan rahmat untuknya.

Kemudian giliran Hajjaj memanggil Kamil bin Ziyad an-Nukhai dihadapkan dari ditanya:

Hajjaj: “Apakah engkau mengakui dirimu telah kafir?”

Kamil: “Tidak. Demi Allah aku tidak akan mengakuinya.”

Hajjaj: “Bila demikian, aku akan membunuhmu.”

Kamil: “Silakan saja kalau engkau mau melakukannya. Kelak akan bertemu di sisi Allah dan setiap pembunuhan ada perhitungannya.”

Hajjaj: “Ketika itu, kesalahan berada di pihakmu.”

Kamil: “benar, bila engkau yang menjadi hakimnya di hari kiamat itu.”

Hajjaj: “Bunuh dia!”

Lalu beliaupun dibunuh…

Selanjutnya dihadapkan pula seseorang yang sudah lama menjadi burnonan Hajjaj karena dianggap menghinanya. Hajjaj berkata, “Kurasa orang yang di hadapanku ini mustahil mengakui dirinya kafir.” Namun orang itu menjawab, “Janganlah tuan memojokkan aku dulu dan jangan pula berdusta tentang diriku. Sesungguhnya akulah orang yang paling kafir di muka bumi ini, lebih kafir daripada Fir’aun yang semena-mena itu.” Hajjaj terpaksa membebaskannya, padahal ia sudah gatal untuk membunuhnya.

Konon, pembantaian besar-besaran tersebut telah menelan ribuan korban dari orang-orang mukmin yang teguh pendiriannya. Dan ribuah lain yang selamat adalah yang dipaksa mengaku dirinya kafir. Sa’id bin Jubair merasa yakin bahwa kalau dia tertangkap, maka akan menghadapi dua pilihan seperti yang lain juga, yaitu dipenggal lehernya atau mengakui dirinya kafir. Dua pilhan, yang paling manis dari keduanyapun begitu pahit. Oleh sebab itu, beliau memilih keluar dari Irak, ia menyembunyikan diri dari masyarakat. Maka berkelilinglah ia di bumi Allah dengan sembunyi-sembunyi agar tak diketahui oleh Hajjaj dan kaki tangannya, hingga akhirnya tinggal di sebuah desa di dekat Mekah.

Selama sepuluh tahun beliau tinggal di sana, waktu yang cukup lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj.

Akan tetapi, ternyata ada perkembangan situasi yang tak terduga. Seorang amir baru didatangkan ke Mekah, yaitu Khalid bin Abdullah al-Qasri yang juga berasal dari Bani Umayah. Para sahabat Sa’id bin Jubair menjadi gelisah dan khawatir karena mereka tahu tentang kekejaman wali baru itu. Mereka menduga bahwa wali baru tersebut pasti akan menangkap Sa’id bin Jubair.

Di antara mereka segera menemui Sa’id bin Jubair lalu berkata, “Orang itu telah datang ke Mekah. Demi Allah, kami khawatir akan diri Anda, maka sebaiknya Anda keluar saja dari sini.” Namun beliau menjawab, “Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi sampai malu rasanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aku telah memutuskan akan tetap tinggal di sini, pasrah dengan kehendak Allah.”

Dugaan orang-orang tentang kekejaman Khalid ternyata tak meleset. Begitu mendengar dan mengetahui tempat persembunyian Sa’id bin Jubair, dia langsung mengirimkan pasukannya untuk menangkap Sa’id, mengikat lalu mengirimkannya kepada Hajjaj di kota Wasit nanti.

Tentara Khalid mengepung rumah syaikh tersebut lalu menangkap dan mengikatnya di depan murid-murid dan para sahabatnya. Setelah itu mereka bersiap-siap untuk membawanya kepada Hajjaj. Sa’id menghadapi semua itu dengan tenang. Beliau menoleh kepada para sahabatnya dan berkata,

“Saya merasa akan terbunuh di tangan penguasa yang zalim itu. Sesungguhnya pada suatu malam aku pernah melakukan ibadah bersama dua orang teman. Kami merasakan manisnya ibadah dan doa kepada Allah, lalu kami bertiga memohon syahadah (mati syahid). Kedua kawan tersebut sudah mendapatkannya, tinggal aku yang masih menunggu.”

Belum lagi beliau selesai bicara,seorang gadis cilik muncul dan demi melihat beliau diikat dan diseret oleh para prajurit, dia langsung merangkul Sa’id sambil menangis. Sa’id menghiburnya dengan lembut dan berkata, “Katakanlah kepada ibumu wahai putriku, kita akan bertemu nanti di surga, insya Allah.” Bocah itupun pergi.

Sampailah utusan yang membawa Sa’id seorang imam yang zahid, ‘abid, dan berbakti itu di kota Wasit. Sa’id dihadapkan kepada Hajjaj bin Yusuf.

Setelah Sa’id berada di hadapan Hajjaj, dengan pandangan penuh kebencian Hajjaj bertanya:

Hajjaj: “Siapa namamu?”

Sa’id: “Sa’id (bahagia) bin Jubair (perkasa).”

Hajjaj: “Yang benar engkau adalah Syaqi (celaka) bin Kasir (lumpuh).”

Sa’id: “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?”

Sa’id: “Apakah yang kau maksud adalah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Hajjaj: “Benar.”

Sa’id: “Manusia utama di antara keturunan Adam dan nabi yang terpilih. Yang terbaik di antara manusia yang hidup dan yang paling mulia di antara yang telah mati. Beliau telah mengemban risalah dan menyampaikan amanat, beliau telah menunaikan nasihat bagi Allah, kitab-Nya, bagi seluruh kaum muslimin secara umum dan khusus.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?”

Sa’id: “Ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau wafat dengan terpuji dan hidup dengan bahagia. Beliau mengambil tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa merubah ataupun mengganti sedikitpun darinya.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”

Sa’Id: “Beliau adalah al-Faruq, dengannya Allah membedakan antara yang haq dengan yang batil. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan rasul-Nya, beliau melaksanakan dan mengikuti jejak kedua pendahulunya, maka dia hidup terpuji dan mati sebagai syuhada.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Utsman?”

Sa’id: “Beliau yang membekali pasukan Usrah dan meringankan beban kaum muslimin dengan membeli sumur “Ruumah” dan membeli rumah untuk dirinya di Surga. Beliau adalah menantu Rasulullah atas dua orang putri beliau dan dinikahkan karena wahyu dari langit. Lalu terbunuh di tangan orang zalim.”

Hajjaj: “Bagaimana dengan Ali?”

Sa’id: “Beliau adalah Putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pemuda pertama yang memeluk Islam. Beliau adalah suami Fathimah radhiallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ayah dari Hasan dan Husein yang merupakan dua pemimpin pemuda ahli Surga.”

Hajjaj: “Khalifah yang mana dari Bani Umayah yang paling kau sukai?”

Sa’id: “Yang paling diridhai Pencipta mereka.”

Hajjaj: “Manakah yang paling diridhai Rabb-nya?”

Sa’id: “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang zahir dan yang tersembunyi.”

Hajjaj: “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?”

Sa’id: “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.”

Hajjaj: “Aku ingin mendengarkan pendapatmu.”

Sa’id: “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

Hajjaj: “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu.”

Sa’id: “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah, engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat padahal justru membawamu ke arah kehancuran dan menjurumuskanmu ke neraka.”

Hajjaj: “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

Sa’id: “Bila demikian, maka engkau merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu.”

Hajjaj: “Pilihlah bagi dirimu cara-cara kematian yang kau sukai.”

Sa’id: “Pilihlah sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat nanti.”

Hajjaj: “Tidakkah engkau menginginkan ampunanku?”

Sa’id: “Ampunan itu hanyalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya.”

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya diperintahkan: “Siapkan pedang dan alasnya!”

Sa’id tersenyum mendengarnya, sehingga bertanyalah Hajjaj,

Hajjaj: “Mengapa engkau tersenyum?”

Sa’id: “Aku takjub atas kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu.”

Hajjaj: “Bunuh dia sekarang!”

Sa’id: (Menghadap kiblat sambil membaca firman Allah Ta’ala):

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al-An’am: 79)

Hajjaj: “Palingkan ia dari kiblat!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 115)

Hajjaj: “Sungkurkan dia ke tanah!”

Sa’id: (Membaca firman Allah Ta’ala)

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

Hajjaj: “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti dia.”

Sa’id: (Mengangkat kedua tangannya sambil berdoa), “Ya Allah jangan lagi Kau beri kesemaptan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Tak lebih dari lima belas hari setelah wafatnya Sa’id bin Jubair, mendadak Hajjaj bin Yusuf terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya makin meningkat dan bertambah parah rasa sakitnya hingga keadaannya silih berganti antara pingsan dan siuman. Tidurnya tak lagi nyenyak, sebentar-sebentar terbangun dengan ketakutan dan mengigau: “Ini Sa’id bin Jubair hendak menerkamku! Ini Sa’id bin Jubair berkata: “Mengapa engkau membunuhku?” Dia menangis tersedu-sedu menyesali diri: “Apa yang telah aku perbuat atas Sa’id bin Jubair? Kembalikan Sa’id bin Jubair kepadaku!”

Kondisi itu terus berlangsung hingga dia meninggal. Setelah kematian Hajjaj, seorang kawannya pernah memimpikannya. Dalam mimpinya itu dia bertanya kepada Hajjaj: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat terhadapmu setelah membunuh orang-orang itu, wahai Hajjaj?”

Dia menjawab, “Aku disiksa dengan siksaan yang setimpal atas setiap orang tersebut, tapi untuk kematian Sa’id bin Jubair aku disiksa 70 kali lipat.”


Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

sumber dari SINI

Nasihat Hassan al- Basri kepada Umar bin Abd Aziz

Berikut ini adalah nasihat al-Hasan al-Bashri kepada Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang shaleh dari Bani Umayyah. Al-Hasan menasihati beliau tentang hakikat dunia, karena bisa jadi seseorang yang shaleh pun tergelicir ketika memegang kekuasaan tertinggi dan dia membutuhkan nasihat yang mengingatkannya. Apalagi jabatan yang dipegang oleh Umar adalah jabatan yang sangat besar, karena ia adalah salah satu raja yang memegang wilayah terbesar di dunia. Godaan, ambisi, fitnah dunia, dan keinginan untuk menikmatinya bisa saja muncul kala itu.

Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, isi surat tersebut menjelaskan tentang hakikat dunia. Teks surat tersebut adalah sebagai berikut:

Amma ba’du.. Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dunia adalah rumah persinggahan dan perpindahan bukan rumah tinggal selamanya.

Adam diturunkan ke dunia dari surga sebagai hukuman atasnya, maka berhati-hatilah. Sesungguhnya orang yang berhasrat kepada dunia akan meninggalkannya, orang yang kaya di dunia adalah orang yang miskin (dibanding akhirat), penduduk dunia yang berbahagia adalah orang yang tidak berlebih-lebihan di dalamnya. Jika orang yang berakal lagi cerdik mencermatinya, maka dia melihatnya menghinakan orang yang memuliakannya, mencerai-beraikan orang yang mengumpulkannya. Dunia layaknya racun, siapa yang tidak mengetahuinya akan memakannya, siapa yang tidak mengetahuinya akan berambisi kepadanya, padahal, demi Allah itulah letak kebinasaannya.

Wahai Amirul Mukminin, jadilah seperti orang yang tengah mengobati lukanya, dia menahan pedih sesaat karena dia tidak ingin memikul penderitaan panjang. Bersabar di atas penderitaan dunia lebih ringan daripada memikul ujiannya. Orang yang cerdas adalah orang yang berhati-hati terhadap godaan dunia. Dunia seperti pengantin, mata-mata melihat kepadanya, hati terjerat dengannya, pada dia, demi Dzat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, adalah pembunuh bagi siapa yang menikahinya.

Wahai Amirul Mukminin, berhati-hatilah terhadap perangkap kebinasaannya, waspadailah keburukannya. Kemakmurannya bersambung dengan kesengsaraan dan penderitaan, kelanggengan membawa kepada kebinasaan dan kefanaan. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, bahwa angan-angannya palsu, harapannya batil, kejernihannya keruh, kehidupannya penderitaan, orang yang meninggalkannya adalah orang yang dibimbing taufik, dan orang yang berpegang padanya adalaah celaka lago tenggelam. Orang yang cerdik lagi pandai adalah orang yang takut kepada apa yang dijadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menimbulkan rasa takut, mewaspadai apa yang Allah telah peringatkan, berlari meninggalkan rumah fana kepada rumah yang abadi, keyakinan ini akan sangat terasa ketika kematian menjelang.

Dunia wahai Amirul Mukminin, adalah rumah hukuman, siapa yag tidak berakal mengumpulkan untuknya, siapa yang tidak berilmu tentangnya akan terkecoh, sementara orang yang tegas lagi berakal adalah orang yang hidup di dunia seperti orang yang mengobati sakitnya, dia menahan diri dari pahitnya obat karena dia berharap kesembuhan, dia takut kepada buruknya akibat di akhirat.

Dunia wahai Amirul Mukminin, demi Allah hanya mimpi, sedangkan akhirat adalah nyata, di antara keduanya adalah kematian. Para hamba berada dalam mimpi yang melenakan, sesungguhnya aku berkata kepadamu wahai Amirul Mukminin apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki bijak,

‘Jika kamu selamat, maka kamu selamat dari huru-hara besar itu. Jika tidak, maka aku tidak mengira dirimu akan selamat’.

Ketika surat al-Hasan al-Bashri ini sampai ke tangan Umar bin Abdul Aziz, beliau menangis sesenggukan sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya merasa kasihan kepadanya. Umar mengatakan, “Semoga Allah merahmati al-Hasan al-Bashri, beliau terus membangunkan kami dari tidur dan mengingatkan kami dari kelalaian. Sungguh sangat mengagumkan, beliau adalah laki-laki yang penuh kasih terhadap kami (pemimpin), beliau begitu tulus kepada kami. Beliau adalah seorang pemberi nasihat yang sangat jujur dan sangat fasih bahasanya.”

Umar bin Abdul Aziz membalas surat al-Hasan dengan mengatakan:

“Nasihat-nasihat Anda yang berharga telah sampai kepadaku, aku pun mengobati diriku dengan nasihat tersebut. Anda menjelaskan dunia dengan sifat-sifatnya yang hakiki, orang yang pintar adalah orang yang selalu berhati-hati terhadap dunia, seolah-olah penduduknya yang telah ditetapkan kematian sudah mati. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.”

Ketika balasan Umar sampai di tangan al-Hasan, beliau berkata, “Amirul Mukminin benar-benar mengagumkan, seorang laki-laki yang berkata benar dan menerima nasihat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengagungkan nikmat dengan kepemimpinannya, merahmati umat dengan kekuasaannya, menjadikannya rahmat dan berkah.”

Al-Hasan al-Bashri menulis sedikit lagi pesan kepada Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan:

“Amma ba’du, sesungguhnya ketakutan besar dan perkara yang dicari ada di depanmu, dan engkau pasti akan menyaksikannya, selamat atau celak.” (Az-Zuhd, al-Hasan al-Bashri, Hal.169).

Sumber: Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz, Ulama dan Pemimpin Yang Adil ditulis oleh DR. Ali Muhammad ash-Shalabi. Diterbitkan oleh Darul Haq.

Dipetik dari SINI 

kisah Uwais al-Qarni

Assalammualaikum wbt, 
Tahukah kamu siapakah Uwais al-Qarni? Uwais al-Qarni merupakan pemuda yang disebut-sebut namanya oleh Rasullulah saw kepada para sahabat baginda. 

Rasullulah saw pernah berpesan kepada Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra bahawa akan lahir di kalangan tabiin seorang yang sangat makbul doa yang akan lahir di zaman kamu (zaman selepas kewafatan Rasullulah saw). 

Tujuan Rasullulah saw menyuruh Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra mencari Uwais al-Qarni tidak lain ialah meminta Uwais al-Qarni berdoa kepada Allah supaya mengampunkan dosa-dosa sahabat (Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra). 

Marilah kita lihat apa istimewanya Uwais al-Qarni sehingga Rasullulah saw meminta sahabat mencari dan meminta doa darinya. 
Memang benarlah kata-kata Rasulullah S.A.W, Uwais al-Qarni akhirnya muncul di zaman Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra. Kedua-dua mereka yang memang menunggu dan mencari kabilah-kabilah yang datang dari Yaman ke Madinah, akhirnya bertemu juga dengan Uwais al-Qarni. Pada pandangan mata kasar mereka, tidak mungkin dia adalah orang yang Rasulullah saw sebut-sebutkan ini kerana, Uwais Al-Qarni dianggap sebagai seorang yang kurang waras di kalangan orang awam atau penduduk setempat.
Uwais Al-Qarni adalah seorang yang berpenyakit sopak di seluruh tubuh badannya, yakni sejenis penyakit kulit yang tidak digemari ramai. Walaupun begitu, beliau adalah seorang yang soleh yang amat mengambil berat tentang ibunya yang uzur dan lumpuh. Beliau begitu tekun untuk mendapatkan keredhaan ibunya. Bapa beliau meninggal dunia ketika beliau masih kecil lagi. Beliau berpenyakit sopak sejak dilahirkan dan ibunya menjaganya sampai beliau dewasa.
Suatu hari ibunya memberitahu kepada Uwais Al-Qarni bahawa dia ingin sekali untuk mengerjakan ibadat haji. di Mekah. Ibunya menyuruh Uwais Al-Darni supaya berikhtiar agar beliau dapat membawanya ke Mekah untuk menunaikan haji. Sebagai seorang yang miskin, Uwais Al-Qarni  tidak berdaya untuk mencari perbelanjaan untuk ibunya kerana pada zaman itu kebanyakan orang pergi menunaikan haji dari Yaman ke Mekah perlu menyediakan beberapa ekor unta yang dipasang di atasnya ‘Haudat’. Haudat ialah sebuah rumah kecil yang diletakkan di atas unta untuk melindungi diri daripada cuaca panas matahari dan hujan. 

Uwais tidak mampu menyediakan perbelanjaan untuk ibunya pergi mengerjakan haji apatah lagi untuk memiliki unta.
Namun atas permintaan ibunya yang sangat Uwais kasihi. Uwais Al-Qarni mendapat suatu ilham. Beliau membeli seekor anak lembu yang baru lahir dan sudah habis menyusu. Beliau membuat sebuah rumah di atas ‘Tilal’ (tanah tinggi). Rumah untuk lembu itu dibina di atas bukit, apa yang beliau lakukan ialah pada petang hari beliau akan mendukung anak lembu untuk naik ke atas Tilal. Pagi esoknya beliau akan mendukung lembu itu turun dari Tilal tersebut untuk diberi makan. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Ada ketikanya dia mendukung lembu itu mengelilingi bukit tempat dia memberi lembu itu makan. Perbuatan yang dilakukannya ini menyebabkan orang mengatakan beliau kurang waras.
Memang pelik, membuatkan rumah untuk lembu di atas bukit, kemudian setiap hari mengusung lembu, petang dibawa naik, pagi dibawa turun bukit. 

Namun sebenarnya jika dilihat di sebaliknya, Uwais al-Qarni seorang yang bijak. Lembu yang asalnya hanya 20kg, selepas 6 bulan lembu itu sudah menjadi 100kg. Otot-otot tangan dan badan Uwais Al-Qarni pula menjadi kuat hinggakan dengan mudah mengangkat lembu seberat 100kg turun dan naik bukit setiap hari.
Selepas 8 bulan, apabila sampai musim haji. Rupa-rupanya perbuatannya selama ini adalah satu persediaan untuk beliau membawa ibunya mengerjakan haji. Beliau telah memangku ibunya dari Yaman sampai ke Mekah dengan kedua tangannya. Di belakangnya beliau meletakkan barang-barang keperluan seperti air, roti dan sebagainya. Lembu yang beratnya 100kg boleh didukung dan dipangku inikan pula ibunya yang lebih ringan. Beliau membawa (mendukung dan memangku) ibunya dengan kedua tangannya dari Yaman ke Mekah, mengerjakan Tawaf, Saie dan di Padang Arafah dengan senang sahaja. Uwais juga memangku ibunya dengan kedua tangannya pulang semula ke Yaman dari Mekah.
Setelah pulang semula ke Yaman, ibunya bertanya:
Uwais, apa yang kamu doakan sepanjang kamu berada di Mekah?
Uwais Al-Qarni menjawab:
Saya berdoa minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-dosa ibu”.
Ibunya bertanya lagi:
Bagaimana pula dengan dosa kamu?
Uwais Al-Qarni menjawab:
Dengan terampun dosa ibu, ibu akan masuk syurga. Cukuplah ibu redha dengan saya, maka saya juga masuk syurga.
Ibunya berkata lagi:
Ibu inginkan supaya engkau berdoa agar Allah hilangkan sakit putih (sopak) kamu ini.
Uwais Al-Qarni berkata:
Saya keberatan untuk berdoa kerana ini Allah yang jadikan. Kalau tidak redha dengan kejadian Allah, macam saya tidak bersyukur dengan Allah Ta’ala.
Ibunya menambah:
Kalau ingin masuk ke syurga, mesti taat kepada perintah ibu. Ibu perintahkan engkau berdoa.
Akhirnya Uwais Al-Qarni tidak ada pilihan melainkan mengangkat tangan dan berdoa. Beliau lalu berdoa seperti yang diminta oleh ibunya supaya Allah menyembuhkan putih yang luar biasa (sopak) yang dihidapinya itu. 

Allah SWT lalu menyembuhkan serta merta, hilang putih sopak di seluruh badannya kecuali tinggal satu tompok sebesar duit syiling di tengkuknya. Tanda tompok putih kekal pada Uwais Al-Qarni kerana permintaannya, kerana sopak ini adalah satu anugerah, maka inilah tanda pengenalan yang disebut Rasulullah saw kepada Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra:
“Tandanya kamu nampak di belakangnya ada satu bulatan putih, bulatan sopak. Kalau berjumpa dengan tanda itu, dialah Uwais al-Qarni.”
Tidak lama kemudian, ibunya meninggal dunia. Beliau telah menunaikan kesemua permintaan ibunya. Selepas itu beliau telah menjadi orang yang paling tinggi martabatnya di sisi Allah. Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra dapat berjumpa dengan Uwais Al-Qarni dan seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W, mereka meminta supaya beliau berdoa agar Allah SWT berkenan mengampuni semua dosa-dosa mereka berdua.
Ketika Uwais al-Qarni berjumpa Saidina Umar dan Saidina Ali, beliau berkata:
“Aku ini datang dari Yaman ke Madinah kerana aku ingin menunaikan wasiat Rasulullah S.A.W kepada kamu iaitu supaya kamu berdua berjumpa dengan aku.”
Maka Uwais Al-Qarni pun telah mendoakan untuk mereka berdua.
Setelah itu Saidina Umar, yang ketika itu memegang jawatan Khalifah, saidina umar mahu membuat surat kepada Gabenor Kufah supaya melayan Uwais Al-Qarni dengan layanan yang istimewa. Namun begitu ditolak dengan baik oleh Uwais Al-Qarni. 

Lalu Uwais Al-Qarni menjawab dengan lembut :
“Berada di tengah-tengah orang ramai sehingga tidak dikenali lebih aku sukai.”
Diriwayatkan semasa kewafatan beliau, terlalu ramai “orang” yang menyempurnakan jenazah beliau. Daripada urusan memandikan sehinggalah dibawa ke liang lahad. Agak menghairankan kerana pada masa hidup beliau tiada orang yang memperdulikan beliau yang miskin. Malah ada yang menganggap beliau seorang yang gila. Siapakah “orang-orang” tersebut. Mereka itu adalah penduduk-penduduk langit yang terdiri daripada malaikat-malaikat.
Demikianlah kisah Uwais Al-Qarni yang amat taat dan kasih kepada ibunya. Seorang Wali Allah yang tidak terkenal di bumi, tetapi amat terkenal di langit. Wallahua’lam.

Sunday, 28 December 2014

kat draft jer ler

actually bnyk mnde dah ditulis tapi kebanyakkannya sekerat jalan jer..

rizen?

mende yang nak ditulis 100000000 patah perkataan tapi baru taip 1000 patah dah rasa malas n end up dengan save kat draft jer..

tak tahu ler bila nak sambung mnulehhh..

lagi 3 minggu nak masuk kolej dah.. tak tahu ler ada masa ke tak nak berblogging... tapi kalo diikutkan logik akal. next sem aku ada dua subjek jer. calculus n programming..

kelas hari khamis n selasa satu kelas jer
jumaat tak de kelas.. hihi


itu jer.. sekian..

take me to your heart

Take me to your heart
Hiding from the rain and snow
Trying to forget but I won't let go
Looking at a crowded street
Listening to my own heart beat

So many people all around the world
Tell me where do I find someone like you man

Take me to your heart, take me to your soul
Give me your hand before I'm old
Show me what love is, haven't got a clue
Show me that wonders can be true

They say nothing lasts forever
We're only here today
Love is now or never
Bring me far away

Take me to your heart, take me to your soul
Show me what love is, haven't got a clue
Show me that wonders can be true

Give me your hand and hold me
Show me what love is, be my guiding star
It's easy, take me to your heart

Standing on a mountain high
Looking at the moon through a clear blue sky
I should go and see some friends
But they don't really comprehend

Don't need too much talking without saying anything
All I need is someone who makes me wanna sing

Take me to your heart, take me to your soul

Give me your hand before I'm old

Friday, 19 December 2014

JOM masuk SRAI 19,SHAH ALAM

Bismillahirrahmanirrahim..

dengan ini,aku ingin recommend kat uols.. mak mak bapak bapak smua yang tercari cari sekolah utk anak2 yang nak melangkah ke darjah satu. 
yang menginginkan anak anak mereka pelajari akademik dan agama serentak..

maka dengan itu.. 
buatla keputusan yang bijak ^^ !!

daftarkan lah anak anda ke SEKOLAH RENDAH AGAMA INTEGRASI SEKSYEN 19 SHAH ALAM,kat sek 7 pon ada dah taw skrg ni. or mana2 sekolah yang menawarkan subjek akademik dan agama. 

kenapa SRAI 19?? kenapa mira? kenapa? kenapa?


first sebab sekolah ni menawarkan subjek akademik dan agama. means uols(bapak bapak dan ibuk ibuk) tak perlu risau pagi pagi nak kena antar anak ke sekolah kebangsaan,pastu tengah hari kalut nak ambil anak kat sekolah then nak hantar p kelas agama. if ada pengasuh pon, it not worth at all .. ni pada pandangan aku la. jgn memarah yerrrr..

second, memudahkan ibubapa,
why? yelah normally parent akan hantar anak2 mereka ke sekolah before dorang p kerja en. n if hantar anak mereka ke SRAI 19 yang mana sesi persekolahannya 7.50am sampai pukul 3.30pm. then suruh la ank tu duk kat kantin,mesti ramai jer bebudak yg tunggu parents dorang mai ambik. dan don wori ada perkhidmatan bas sekolah untuk yang tinggal kat seksyen 20,16,17,18,24,25,26. seksyen yang aku sebutkan ni adalah familiar ngan dak2 srai 19 exc 16. haha.

saya duk jauh? nanti anak macam mana lepas sekolah ?

.untuk yang duk jauh contohnya di pj or klang. don wori aku ada kenal sorang aunty ni dia pengasuh. rumah dia dekat jer ngan srai. adik2 aku semuanya stay kat rumah dia kejap sementara tunggu  mak aku ambil dorang. if berminat boleh roger aku yer. nanti aku bagi no fon aunty tu. auntie tu baikkk plus dia ada amik upah bua kueh raya jugak taw.. hihi.. promote jap. oh ya,pilihan kedua is mak kawan aku,tapi dia ni prefer jaga bebudak lah yg 6 thun kebawah.

 third - masa kecik lah utk didik anak2 dengan ilmu agama biar lekat dlm otak almaklumlah dosa tak banyak lagi. setakat apa yang aku tengok,ramai jer mber aku yang mse kat SRAI dlu,then masuk form 1 sekolah biasa(SMK) then ada jugak yang dah free hair. tu masalah masing2 lah yer.. sekarang ni pasal basic agama. takkan time nak kawin baru sibuk belajar agama kan. ok antara subjek agama yang akan dipelajari are

tauhid
feqah
imlak
khat
jawi
akhlak
sirah
alquran
hafazan
tajwid

nak aku hurai satu-satu ke? rasanya tak perlu lah kotttt.. nanti makin berjela plak post ni. but if uols still nak tahu details mende ni boleh lah roger aku or gugel yer..

TBH,aku sgt bersyukur sbb bljr kat SRAI. alhamdulillah aku ingat lagi apa yang aku belajar dulu terutama tajwid !!  yelah,kita belajar mende-mende mcm ni bukan utk dapat mumtaz jer dlm exam tp utk dipraktikkan.. tak gitu??? ilmu yang kita belajar masa sekolah rendah ni sebenarnya sampai mati kita kena praktikkan..  yang penting apa? niat ^^ fikir2kan lah yerrr..


forth -peluang untuk anak ke sekolah menengah agama. ye lah,utk parents yang nak hantar anak ke mrsm ulul albab,SAM,SMA,SAMT, dll. kan seeloknya ank tu ada basic agama yg dia belajar mse sekolah rendah. nanti tak de ler culture shock sangat kan..contoh dekat aku ler,even dlu upsr aku 3a jer wehhh,psra alhamdulillah lah mumtaz 92.2 % jer and dapat offer ke SAMTTAJ dan SMAAM. tapi dah ditakdirkan aku memilih SMAAM even aku sangat berharap nak masuk SAMTTAJ sbb crush aku pon dpt SAMTTAJ gak..hihi.. setiap yang berlaku ada hikmahnya kan.. dan seriously aku sangat berbanngga dapat sekolah kat SMAAM.I MISS U


ok lah rasanya itu jer... aku menulis ni dari segi pandangan aku sebagai ex SRAI 19 tahun 2002-2007.
lama dah...

dan semua adik beradik aku sekolah kat sini. sekolah warisan gituu..

sebelum aku terlupa... sekarang ni ada ujian kemasukan taw... don wori kalau tak dpt jugak boleh buat rayuan ya.. peluang kedua dan ketiga sentiasa ada..

sekian.. terima kasih kerana sudi membaca.

jom nak kasi hadiah sikettt. sponsor by gugel





sweet eleven HAZIQ !!!!

Assalamualaikum..

post ni bersifat peribadi.. ececeh ok fine guro guro jeh

alang-alang tengah free cuti sem 3 bulan lah katakan kannnn plus tak kerjeeeee weeehuuu bestnyaa

so nak dijadikan ceghita HAZIQ ni ADIK aku.. bukan adik angkat yer. takde masa aku nak berangkat angkat ni,lagi banyak dpt dosa ade lah aku rasa.

FYI,si Haziq ni. dia lahir 19/12/2003. 18 hari selepas my beloved father passed away.. uhuk2 sedih jap..

then dia ni masa kecik muka macam mamat arab lah. putih gebu polos gituuu,mak aku en ada darah2 arab . tapi tu lah lelaki kan.. susah nak maintain putehnya lagi2 hok aktif gegilerr. yang lawoknya adik aku ni nak kata aktif sukan,hampehhh...

so tahun ni adik aku ni baru darjah 5. tahun depan nak amik upsr n psra dah... besor dah adik aku ni,dah nak masuk sekolah menengah. jag diri yer adikku sayang please please please jangan sesekali merokok kay,its HARAM menurut fatwa kebangsaan tahun 1995. tak percaya boleh gugel.

utk korang yang ada adik lelaki tu,kamceng tak? macam kulit dengan lemak tak?

aku ngan adik aku ni kadang macam air ngan minyak,kadang macam isi lembu dengan lemaknya. biasalah lelaki en dia mana boleh hidup sengsorang. mesti nak ada sorang 'geng',time kecik2 maybe ngan adik beradik,then dah besar sikit maybe makweerrr dan bila dah dewasa ape lagi isteri lerr..

nak tak nak aku ler 'geng' si Haziq ni. gaduh? tak yah cerita aku rasa tak yah masuk kelas taikkkwandoo sbb hari2 duk gusti ngan adik aku ni sampai nak patah tangan den ni...

last but not least,gaduh gaduh jugak tp u still my brother. I LOVE YOU FOREVER.. JUMPA KAT SYURGA YAAAA ADIKKU

Monday, 15 December 2014

Mischievous Kiss(Itazurana Kisu)

review time !!

aku agak eksaited nak share drama ni dengan uols..

TBH,mulanya aku tak berminat langsung nak tonton drama ni . tajuk pon macam boring dan makna tajuk pon aku tak faham. ni lah masalahnya bila lack of vocab.. aishh

tapi  ntah macam mana tergerak plai aihh hati ni nak tgk.. mak aiihhh bestnyaaa..



ok sinopsis time !! mira version.

ceritanya bermula bila Aihara Kotoko,cewek kelas F jatuh hati kat mamat genius kelas A,Irie Naoki namanya.  mcm biasa ada orang ke tiga iaitu bff Kotoko iaitu Kinnosuke lakonan Yamada, yang suka kat Kotoko,lama jugak lah dia ada hati kat Kotoko.

kontroversi bermula pabila Kotoko dengan beraninya bagi surat cinta pertamanya kat Irie Kun  kat depan pintu pagar. dah la masa tu pagi means ramai orang lah. si Irie ni reject plak.

scene yang aku rasa mcm agak tak logik bila rumah baru kotoko ni runtuh sebab meteor. boleh plak dan dan jer meteor jatuh. dan kebetulan plak ayah kotoko tu bff ngan ayah Irie. esoknya ayah Irie ajak ayah kotoko tinggal bersama2 ngan dorang.

then ape lagi,makin suka lah kotoko sbb dpt rapat ngan Irie. plus mak Irie plak suka ngan dorang.

selepas tu banyak lah kisah2 bahagia. yang coolnya Irie ni maintain mcm dia tak suka Kotoko. kalau aku jadi Kotoko,memang dah putus harapan lah lagi2. tapi aku tahu Kotoko takkan berputus asa sampailah Irie jadi milik seseorang.

drama ni tak terlalu ketara kisah cinta dorang. aku rasa perlakuan dorang sendiri dah berbicara. cool kan..

hanya di akhir episod ni bila Irie dah SAH bertunang dengan SOTOKO cucu siapa ntah. si SOTOKO ni memang gaya wanita jepun terakhir lah. pakej lengkap.

tapi tapi tapi pun walau demikian..  hati Irie goyah akhirnya bila dia tahu bff Kotoko proposed Kotoko..

dan akhir kata sweet ending.. nak tahu lebih lanjut tengok lah sendiri yaa..

btw sekarang ni dah ada mischievous kiss 2.. im sure kisah cinta dorang lagi hebat diuji denga kehadiran orang ketiga keeempat dan kelima..

pengajaran yang aku dapat dari drama ni

1. Jangan Pentingkan Diri sendiri
dalam kisah ni Irie nak jadi doctor sebenarnya tapi disebabkan ayah da sakit, dia korbankan cita cita dia.

2. tak berputus asa
Kinnosuke yang suka Kotoko dah lama then Kotoko plak suka kat Irie plak. tp dia tak terputus asa wlaupun Kotoko dah ***** dengn Irie. nak thu ***** tu pe sila tgk lah drama ni yer.
- Kotoko yang gigih improve masakan dia even dikutuk mutuk


3. jangan malu bertanya


rasanya itu jer.. tengok lah drama ni sweet sangatt.. tpi aku tak galakkan utk warga dewasa 25 tahun ke atas tengok sebab risau tak sesuai dengan jiwa depa.. haha

aku sajikan pic from gugel eh...semoga tertarik  utk menonton .
aku akan tambah caption utk setiap pic ni lain kali k













Saturday, 6 December 2014

bagi free pon tak nak

Assalamualaikum... hi ^^

post yang pendek jer.. tetiba terpikir pasal mende ni dan terdetik nak tulis.. haha


agak2 ape eh something yang orang dah bagi free tapi kita still tak nak amik mende tu. jual mahai lah senang..

ok please excuse pasal maruah,Brim,or apa2 yang membabitkan kerajaan sebab ianya TAK DE KAITAN langsung k.

ok ini jawapan dari aku,if uols pon nak luahkan jawapan pon boleh ler komen yer..

cane eh nak habaq kat uols..
mcm ni,biasanya kat mall or supermarket. kan ada mini 'kiosk' kat tepi2 tu bagi tester minuman,makanan,perfume n mcm2 lagi lah.. even flyer pon termasuk k..

kalo tak silap aku,mende ni terjadi kat aku,tak ingat mall yang mana,banyak sgt mall yg dah aku pergi. masa tu ngah trun eskalator. then dah nak sampai kat bawah tu ade la sis duk tunggu nak bagi tester makanan tak silap. then ntah aku ni kadang wat tak layan jer/pandang stret. then aku terdengar dia mengeluh ' dah bagi free pon tak nak'.

then baru aku realize,even kita sebenarnya tak berminat pon nak singgah kat kedai dia or nak try tapi apa salahnya kita MENGHARGAI dia.

manalah tahu,bila kita tak ambil apa yang dia hulur tu,dia rasa terhina or tak dihargai. manalah tahu kan. hati manusia.. paling teruk pon dia ngata kat kita.

dan manalah tahu disebabkan kita terima flyer,or tester yang dia bagi tu. dia rasa lagi bersemangat untuk bekerja.. kan kan kan? lagipon dah tu kerja dia,apa salahnya kita mempermudah kerja dia.

tapi tapi ..

tu lah,jgn cepat terpedaya plak kalo yg duk offer pasal pinjaman lah,kad kredit lah dll yg berisiko,tu faham sendiri lah yer.

tapi tapi tapi lagi satu tapi..

ada jugak promoter yang jenis duk bagi flyer ni kan,once kita accept kertas tu. dia mula lah start engin pot pet pot pet dia. yang tu aku rasa inappropriate lah .. sebab sebab sebab sebabnya... yelah,manalah tahu orang tu rushing to go somewhere plus jenis cepat rasa bersalah,dia layan jer promoter tu promote,dah lah spend time lebih 3 minit,lama tu. tak ke effectnya kat orang tu. ok tak faham sudah..

aku rasa aku ni banyak berfikir pasal ni. kalau orang tu macam ni,kalau orang tu macam tu bla bla bla..

ok tadi pandangan aku dari satu sudut. if kita fikir dari satu sudut lain pulak, iaitu sudut ukhrawi. Aku rasa something yang ketara FREE tapi tak semua orang berebut2 nak is

PAHALA

betol tak? contoh paling senang sangat2 nak dapat pahala is SENYUM . senyum tu kan sedekah. dah dapat pahala.. susah sangat ke nak senyum? best apa,senyum jer,dpt pahala free2 macam tu jer.. tapi berapa kerat jer yang senyum? tapi tu lah,jgn la senyum menggatal or menggoda plak kan..

jumpa member2 or pakcik2 or makcik2 or peniaga ke,cer senyum siketttt.. bukan susah pon..

itu jer.. renungkan dan selamat beramal ^^

sekian